Orang bijak mengatakan ” kamu harus tahu apa yang kau mau dalam hidup”. Terkadang saya merasa sangat kehilangan arah karena tidak tahu apa yang saya mau dalam hidup ini. Dan perasaan ini membawa saya kembali kepada kenangan-kenangan hari lalu. salah satu kenangan yang tiba-tiba muncul adalah, ketika saya menulis blog tentang teman bernama Bobby. Bobby dulu pernah mengirimkan sebuah pesan pada saya ” saya kehilangan arah tak tahu harus kemana”. Dan dalam blog itu saya mencoba menelaah satu-satu yang membuat Bobby merasakan hal seperti itu. Pada kesimpulannya, seperti yang saya tulis dalam blog, Bobby telah gagal menjadi manusia yang utuh ketika itu.
Lalu, hingga hari kemarin saya tak sengaja bertemu dengannya lagi. Bobby tampak lebih gemuk, dan dia sedang mengandeng istrinya yang tengah hamil tua. Pemandangan di depan saya dengan serta merta menghapus teori bahwa ia gagal menjadi manusia utuh. Saya diam-diam ikut bahagia dengan apa yang ia miliki sekarang. Melihatnya berjalan dengan sangat yakin, tentu dia tau arah yang sedang dia tuju sekarang; paling tidak dia tahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah dengan segera.
Dari pengalaman saya ini, membuat saya kembali berpikir. Tak ada salahnya sejenak tak tahu apa yang diinginkan dalam hidup; merasa kehilangan arah. Tokh, hidup akan terus bergulir dan membawa kita kepada sesuatu titik. Titik yang terkadang memaksa kita untuk menentukan arah selanjutnya, atau titik yang membuat kita mengetahui apa yang kita mau-i dalam kehidupan ini.
Tetapi yang menjadi pertanyaan saya saat ini, adalah dengan proses kehilangan arah yang saya alami. Saya kehilangan arah bukan karena saya tidak tahu apa yang saya inginkan tetapi saya kehilangan arah karena ternyata saya menyadari saya menginginkan banyak hal.
Banyak mau, tak tahu prioritas dalam mengapai kemauan ternyata adalah sebuah bencana. Karena in the of day, saya merasa kosong. Kosong terhadap cita-cita yang seperti makin hari makin jauh saja. Saya sepi terhadap pencapaian. Dan terlebih saya tidak tahu kemana harus melangkahkan kaki saya.
Give me your guide sweet Jesus :)
“what is the point in life? What is in YOUR life, especially. We suddenly want meaning, wanted love and we see those things somehow been worn away; we were an automaton; going through the motions, doin the things we’d always done, but we’re not excited by them anymore, we saw the underlying pointlessness of it all. There were nights we were to bed, and wish the morning would never come. But it did come, always. We just gotta embrace it. “
aku berbicang tentang angan esok hari,
hari lampau dan juga kenangan.
aku tergeletak dalam ruang yang tak menghadirkan intonasi gelak tawa, keriangan, marah maupun raungan tangis
semuanya hanya terwakilkan dalam deretan huruf yang itu-itu saja…..
dunia apa yang sedang kita singahi sebenarnya?
yach, ada perwakilan visual mati
monoton dan tak bergerak dalam photo
tapi tampaknya kamu bahagia,
karena akupun begitu…
tapi apa itu kebahagiaan tanpa intonasi?
teknologi ini membunuh intonasi,
hatiku ramai tanpa gemuruh suara tawa
wajahku sendu tanpa tatapan muram
dan kata-kata terus saja terlempar
yang rasanya tak pernah sama antara milikku dan milikmu
aku tak pernah tahu dengan pasti
karena teknologi ini lagi-lagi tak hanya membunuh intonasi
tapi juga ekspresi
apakah kamu disana tersenyum membaca candaku
ataukah hanya otakku yang sedang bermain teater
seolah-olah menghadirkan senyum
atau disana kamu benar mengerti jeritanku yang terwakilkan lewat tulisan panjang di layar ponselmu?
lagi-lagi apa yang sedang kita lalui?
membunuh sekian jarak waktu tempuh dengan teknologi
atau hanya permainan otak yang merasa termanjakan oleh kehadiran semu
kata-kata yang tertulis bukan kehadiran fisik
dan icon-icon wajah bukanlah lukisan wajah
tapi lagi-lagi apa yang sedang kita jalani?
sandiwara pertemanan akrab melalui ponsel
Jogjakarta, 22 Nov 2011
Irine_antara BBM dan Whatsapp
“I admire some of the people on the screen today, but most of them look like everybody else. In our days we had individuality. Pictures were more sophisticated. All this nudity is too excessive and it is getting very boring. It will be a shame if it upsets people so much that it brings on the need for censorship. I hate censorship. In the cinema there`s no mystery. No privacy. And no sex either. Most of the sex I`ve seen on the screen looks like an expression of hostility towards sex.”





